Tampilkan postingan dengan label Health. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Health. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 November 2014

Mitos HIV AIDS,

Mr Jef
 7 Mitos tentang HIV AIDS yang harus diketahui kebenarannya
Ada banyak mitos yang berkembang berkaitan dengan penyakit HIV AIDS. Namun sayangnya mitos yang dipercaya tersebut tidak sepenuhnya benar. Padahal, Anda membutuhkan pemahaman yang baik berkaitan dengan penyakit ini.

Berikut adalah mitos tentang HIV AIDS dan juga kebenarannya yang harus Anda ketahui seperti dilansir dari boldsky.com.

Anda bisa terinfeksi HIV bila menghabiskan banyak waktu dengan penderita
Penelitian telah menunjukkan bahwa penyakit ini bahkan tidak akan menular melalui sentuhan, air mata, keringat, ataupun air liur. Jadi apabila Anda menghabiskan banyak waktu dengan penderita, maka Anda tidak mungkin akan tertular penyakit ini.

Tidak perlu menggunakan kondom apabila masing-masing pihak telah terinfeksi
Kondom tetap diperlukan bahwa apabila Anda dan pasangan telah terinfeksi penyakit ini. Sebab ada berbagai macam virus HIV AIDS dan Anda dapat menghindarinya dengan selalu menggunakan kondom saat berhubungan badan.

Penyakit HIV AIDS adalah akhir dari segalanya
Meskipun hingga saat ini dunia kesehatan belum menemukan obat yang manjur untuk mengobati penyakit ini, namun bukan berarti bahwa apabila Anda tertular penyakit ini maka itu adalah akhir dari segalanya. Seseorang yang telah terinfeksi HIV AIDS tetap dapat menjalankan kehidupannya dengan baik dan bermanfaat untuk orang lain.

Anda akan sehat apabila Anda terus-terusan mengonsumsi obat
Memang benar bahwa obat antiretroviral mampu memperpanjang usia penderita HIV AIDS namun obat ini juga dapat memberikan efek samping bagi kesehatan tubuh Anda.

Nyamuk membantu penularan HIV AIDS
Gigitan nyamuk dipercaya mampu menyebarkan virus ini. Namun hingga saat ini, belum ada penelitian yang dapat membuktikan mitos ini.

'Saya setia pada satu pasangan jadi tidak mungkin tertular'
Perilaku untuk selalu setia pada satu pasangan memang baik. Namun Anda juga tidak mengetahui sejarah kehidupan seksual pasangan Anda. Oleh sebab itu tidak ada salahnya apabila Anda dan pasangan melakukan pemeriksaan kesehatan secara lengkap untuk pencegahan.

HIV AIDS tidak akan menular melalui seks oral
Jika Anda melakukan seks oral dengan orang yang telah menderita penyakit ini, maka Anda tetap bisa terinfeksi virus ini. Oleh karena itu dianjurkan bagi Anda untuk selalu menggunakan kondom bahkan juga saat melakukan seks oral.

Ada beberapa mitos yang berkembang tentang HIV AIDS dan mitos tersebut bisa saja memberikan pemahaman yang salah. Oleh karena itu pelajari dulu mitos-mitos tersebut dengan baik.
Sumber : http://www.merdeka.com

Kamis, 23 Oktober 2014

Mengenali Virus EBOLA

Mr Jef

Shutterstock Ilustrasi
Virus ebola kembali menjadi fokus utama dunia setelah 932 orang di Sierra Leone, Guinea, Liberia, dan Nigeria meninggal sejak Maret.

Mari mengenal lebih jauh mengenai virus tersebut.

Berapa banyak orang yang terkena virus ebola?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 1.600 orang di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone telah terinfeksi virus ebola. Ini merupakan wabah terbesar sepanjang sejarah. Lebih dari setengahnya telah meninggal. Dua pekerja kemanusiaan asal Amerika Serikat terinfeksi ebola ketika bekerja di Afrika Barat. Saat ini, keduanya telah mendapatkan penanganan di Atlanta, AS.


 
Infografis Ebola (I)
Di mana wabah tersebut?

 
The New York Times Infografis Ebola (II)
Bagaimana wabah ebola kali ini dibandingkan dengan yang sebelumnya?

Wabah kali ini adalah yang paling mematikan sejak virus itu pertama kali ditemukan pada 1976.

 
The New York Times Infografis Ebola (III)
Seberapa menularkah virus itu?

Anda tidak serta-merta tertular ebola ketika berdekatan dengan seseorang yang terinfeksi. Ebola tidak seperti virus influenza ataupun Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Seseorang terinfeksi virus ebola melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita. Hal ini terjadi ketika cairan tubuh seperti muntah atau darah penderita mengenai mata, hidung, atau mulut orang lain.

Pada kasus kali ini, orang-orang yang terinfeksi adalah mereka yang merawat saudaranya yang terinfeksi, atau menyiapkan jenazah yang akan dikebumikan.

Orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan berisiko tinggi tertular, utamanya mereka yang tidak terlatih atau tidak dilengkapi perlengkapan yang wajar.

Virus ebola dapat bertahan hidup di permukaan benda. Maka dari itu, benda apa pun yang terkontaminasi dengan cairan tubuh penderita, seperti sarung tangan karet ataupun jarum suntik, dapat menjadi media penularan virus tersebut.

Mengapa wabah ebola sulit ditangani?

Di beberapa daerah di Afrika Selatan, ada kepercayaan bahwa ketika seseorang menyebut kata "ebola" dengan keras, maka seketika itu juga virus tersebut muncul. Kepercayaan ini menyebabkan para dokter, seperti Doctors Without Borders, sulit memeranginya.

Bahkan, sebagian anggota masyarakat menyalahkan dokter sebagai pihak yang menyebarkan virus. Mereka yang terinfeksi memilih pergi ke dukun untuk mendapatkan pengobatan.

Sikap skeptis mereka bukan tanpa sebab. Pada masa lalu, pekerja rumah sakit yang tidak berhati-hati malah menjadi agen penyebaran virus tersebut.

 
The New York Times Ebola
Bagaimana penyakit ini berkembang?

Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat, umumnya gejala muncul sekitar delapan hingga 10 hari setelah seseorang terpapar virus.

Gejala awalnya adalah pusing, demam, dan nyeri. Terkadang muncul ruam-ruam di tubuh penderita. Hal ini diikuti dengan diare dan muntah-muntah.

Kemudian, berdasarkan lebih dari 50 persen kasus yang ada, virus ebola menyerang secara mengerikan. Penderita mengalami muntah darah atau kencing darah. Selain itu, keluar darah dari kulit, mata, atau mulut penderita. Namun, bukan ini yang menyebabkan penderita meninggal, melainkan ketika pembuluh darah di dalam tubuh mengeluarkan cairan. Hal ini menyebabkan tekanan darah menurun secara tajam sehingga hati, ginjal, jantung, dan organ lainnya berhenti bekerja.

Bagaimana pengobatan penyakit ini?

Saat ini, belum ada vaksin atau obat untuk ebola. Ketika wabah sebelumnya terjadi, sebanyak 60-90 persen penderita meninggal. Sejauh ini, hal yang dilakukan dokter adalah merawat penderita, menggunakan cairan dan obat-obatan untuk menjaga tekanan darah tetap normal. Para dokter juga memberikan pengobatan lainnya ketika infeksi ini menyerang tubuh pasien yang semakin lemah. Sebagian kecil orang ternyata memiliki imunitas terhadap virus ebola.

Dari mana virus ini berasal?

Pertama kali, ebola ditemukan pada 1976. Awalnya, virus ini diduga berasal dari gorila. Wabah ebola terhadap manusia terjadi ketika mereka memakan daging gorila. Namun, teori ini dibantah para ilmuwan. Pasalnya, jika hal ini benar, maka seharusnya lebih banyak kera yang terinfeksi dan kemudian mati ketimbang manusia.

Para ilmuwan percaya bahwa kelelawar adalah penyebar virus ini. Kesimpulan ini berdasarkan studi yang dipublikasikan oleh Emerging Infectious Diseases. Lembaga ini melakukan penelitian terhadap 276 kelelawar yang ditangkap di empat daerah di Banglades.

Penularan terjadi ketika kera dan manusia memakan makanan yang telah terkena air liur kelelawar. Bisa juga, kera atau manusia menyentuh benda-benda yang telah terkena air liur atau kelelawar, dan kemudian menyentuh mata dan mulut sendiri.

Wabah kali ini diduga bermula dari sebuah desa di dekat Gueckedou, Guinea, di mana berburu kelelawar adalah hal yang lumrah, menurut Doctors Without Borders.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Hindra Liauw
Editor : Hindra Liauw
Sumber: The New York Times